10 Film Asia di ACBS Film Festival 2019: Ada Bintang Ketjil (1963)

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 30 Maret 2020
Dibaca Normal 3 menit
30 Maret Hari Film Nasional: 10 daftar film Asia yang masuk dalam ACBS Film Festival 2019: dari Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak hingga Bintang Ketjil (1963).
tirto.id - Beberapa film Asia termasuk lima film nasional memeriahkan ACBS Film Festival 2019 lalu yang merupakan rangkaian dari kegiatan Asia Content Business Summit (ACBS) 2019.

Sejumlah film dari Jepang, Thailand, Malaysia, Cina, dan Hong Kong telah diputar dalam agenda yang dihelat Salon Films Media (SMF) tersebut di SGV FX Sudirman pada 19-21 September 2019 lalu.

Berikut adalah daftar film yang diputar dalam ACBS Film Festival 2019 tersebut:

1. Marlina the Murderer in Four Acts (2017)

Film karya Mouly Surya ini menjadi film pertama yang diputar di ajang ACBS Film Festival 2019.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak mengisahkan seorang janda bernama Marlina (Marsha Timothy) yang dihadapkan dengan tujuh orang perampok yang mendatangi rumahnya.

Mereka mengancam nyawa, harta dan juga kehormatan Marlina di hadapan suaminya yang sudah berbentuk mumi, duduk di pojok ruangan.

Meski gagal mewakili Indonesia pada ajang Academy Award di kategori Foreign Language Film, di Indonesia, Marlina berhasil menyabet 10 kategori dari 15 nominasi yang didapatkan di Festival Film Indonesia (FFI) 2018.

Namun, film ini juga masuk dalam beberapa penghargaan Internasional seperti skenario terbaik pada FIFFS Maroko edisi ke-11, film terbaik dalam Asian Nest Wave the QCinema Film Festival Filipina, NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival 2017, Catalonian International Film Festival 2017, serta Tokyo FilmEx 2017.

2. Huang Fu Mi (2016)

Hang Fu Mi merupakan film Cina yang diproduksi pada tahun 2016 besutan sutradara Tung Jingjiang.

Film ini menjadi film kedua yang diputar di hari pertama ACBS Film Festival 2019. Film ini menceritakan akhir Cao Wei, kaisar terkenal Luoyang.

Dia acuh tak acuh pada ketenaran dan kekayaan, dan bertekad untuk mencari perawatan medis, dan mencurahkan waktunya untuk penelitian.

Dia tidak ragu-ragu untuk menguji obat-obatan dan menguji jarum, menjelajahi pengobatan penyakit dengan akupunktur pengobatan Tiongkok, menyelamatkan dunia, dan menolak dipanggil tujuh kali.

Shi menulis "Akupunktur dan Moksibusi" dan karya agung terkenal lainnya yang telah melewati zaman, membuat kontribusi luar biasa bagi sejarah pengobatan Tiongkok kuno dan literatur.

3. Kisah Dua Jendela atau Daysleepers (2018)

Kisah Dua Jendela menjadi karya sutradara Paul Agusta pada tahun 2018. Di dalamnya, menampilkan Joko Anwar, Dinda Kanya Dewi, Djenar Maesa Ayu, Khiva Iskak, dan sederet aktor dan aktris film lainnya.

Film tersebut bercerita tentang Andrea (Dinda Kanya Dewi) dan Leon (Khiva Iskak), dua orang yang memilih untuk hidup pada frekuensi yang berbeda dari orang lain.

Andrea adalah pekerja yang selalu bekerja pada malam hari di sebuah kantor yang hampir kosong dan Leon adalah seorang penulis yang terbiasa bekerja malam di warung kopi favoritnya di seberang kantor Andrea. Dua jendela jadi perantara bagaimana pada akhirnya mereka berjumpa.

4. Tarling is Darling (2017)

Tarling is Darling merupakan film dokumenter besutan Ismail Fahmi Lubis yang dibintangi oleh Jaham, Dewi Kirana, dan Uki Marzuki.

Film ini mengisahkan Kang Jaham, seorang musisi dan pencipta lagu yang berkarir di wilayah Pantura. Ia memiliki spesialisasi dangdut erotis dengan bumbu-bumbu gombalan yang tak pernah usai dengan para biduanita orbitannya.

Sang sutradara mengikuti peerjalanan karir Kang Jaham selama empat tahun untuk pembuatan film ini dengan mengikuti naik turun industri musik dangdut tarling Pantura.

Pada tahun 2017, film ini memenangkan nominasi Dokumenter Panjang Terbaik dalam ajang penghargaan Festival Film Indonesia (FFI).

5. Pro May Genius/Must/Build (2019)

Film berdurasi 103 menit ini merupakan besutan sutradara Thailand Thanawat Eamjinda. Sebuah film tentang pegolf perempuan kelahiran Thailand pertama yang bermain di turnamen golf profesional di AS.

Ariya Jutanugarn memulai karirnya di usia yang sangat muda ketika golf bukan olahraga populer di negaranya dan menjadi juara 10 kali.


6. Sekala Niskala (2017)

Film berjenis drama karya Kamila Andini ini merupakan film yang berkisah tentang dua anak kembar yang menjalin hubungan melalui dunia lain.

Film dengan judul nasional The Seen and Unseen ini berhasil meraih penghargaan sebagai Film Terbaik dalam ajang Berlinale International Film Festival 2018 di Berlin.

Film yang berada di bawah naungan produksi Fourcolours Films dan Treewater Productions ini juga diwarnai dengan tata tari dan unsur-unsur Bali termasuk spiritualitas.

Beberapa penghargaan lain yang berhasil diperoleh Sekala Niskala antara lain Film Remaja Terbaik dalam Asian Pasific Screen Award, Film Terbaik dalam Tokyo FilmEx, dan Film Terbaik dalam Festival Film Asia Netpac Jogja (JAFF)

7. Mencari Rahmat (2017)

Dikisahkan dua teman bujangan, Razak dan Azman, menjalani kehidupan ganda untuk memohon perhatian Roselina dan Ratna yang diinginkan.

Namun, keduanya kemudian harus menghadapi konsekuensi gegabah dari tipu muslihat mereka dan Datin Azizah yang menakutkan.

Film ini merupakan karya dari sutradara dan penulis Al Jafree Md Yusop yang dibintangi oleh Namron, Amerul Effendi, dan Nadia Aqilah.

8. Reflections (2016)

Proyek Asian Three-Fold Mirror ini menyatukan tiga sutradara terkenal dari Asia untuk bersama-sama membuat film omnibus dengan tema umum.

Seri film omnibus pertama, Asian Three-Fold Mirror 2016: Reflections, merefleksikan sejarah dan budaya negara-negara terpilih yang menghasilkan titik cahaya baru.

Di bawah tema "Hidup Bersama di Asia", kru dan pemain bergabung bersama melintasi perbatasan nasional untuk menggambarkan kehidupan karakter yang melakukan perjalanan antara Jepang dan Kamboja, Filipina dan Malaysia.

Karya-karya ini bertujuan untuk membantu menyatukan orang-orang di Asia. Ketiga sutradara tersebut adalah Brillante Me Mendoza, Isao Yukisada, dan Isotho Kulika.

9. Still Human (2018)

Film asal Hong Kong ini mengisahkan seorang pria Hong Kong yang lumpuh dan putus asa bertemu dengan pekerja rumah tangga baru asal Filipina yang telah menunda mimpinya dan datang ke kota untuk mencari nafkah.

Kedua orang asing ini hidup di bawah atap yang sama melalui musim yang berbeda, dan ketika mereka belajar lebih banyak tentang satu sama lain, mereka juga belajar lebih banyak tentang diri mereka sendiri.

Bersama-sama, mereka belajar tentang bagaimana menghadapi berbagai musim kehidupan. Still Human merupakan karya sutradara Oliver Siu Kuen Chan dengan durasi 115 menit.

10. Bintang Ketjil (1963)

Bintang Ketjil merupakan film produksi tahun 1963 yang diputar kembali pada ajang ACBS Film Festival 2019 lalu.

Film yang masih dalam format hitam putih ini disutradarai oleh Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran dengan durasi 103 menit.

Dalam film ini, dikisahkan kepanikan orang tua karena anak-anaknya yang tidak dapat ditemukan.

Anak-anak tersebut mencoba menjelajah sendiri ke kebun binatang, setelah janji orang tua untuk membawa mereka ke sana tidak pernah dipenuhi.

Maria (Maria Umboh) dan Suzy (Suzy Mambo), dengan bantuan mantan guru lama mereka (Rd. Ismail) pergi sendiri dan bertemu banyak karakter dan petualangan unik. Juga ditampilkan adalah band Koes Bersaudara.


Baca juga artikel terkait HARI FILM NASIONAL atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Film)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno
DarkLight