10 Fakta Festival Kanamara Matsuri di Jepang dan Maknanya

Kontributor: Wulandari, tirto.id - 14 Jul 2023 12:36 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Fakta-fakta Festival Kanamara Matsuri di Jepang dan kenapa menarik perhatian turis?
tirto.id - Festival Kanamara Matsuri adalah acara asal Jepang yang dirayakan setiap musim semi minggu pertama di bulan April.

Makna perayaan festival ini sebagai doa untuk kesuburan hingga kelancaran hubungan pernikahan. Itulah kenapa festival ini identik dengan simbol "penis".

Istilah Kanamara Matsuri memiliki arti "Lingga Baja" yang dilakukan di Kuil Kanayama di Kawasaki, Jepang.


Pusat festival diadakan di kuil tersebut karena dewa Kanayama-hiko dan dewi Kanayama-hime dihormati. Mereka berdua merupakan dewa yang pandai besi, pengrajin logam.

Selain itu, orang-orang yang menghadiri festival akan didoakan untuk kemudahan persalinan, keharmonisan pernikahan, hingga perlindungan dari infeksi menular seksual.

Sejarah festival ini dimulai pada tahun 1969 kemudian dilestarikan setiap tahun dan hingga saat ini justru menjadi daya tarik wisata serta digunakan untuk mengumpulkan dana untuk penelitian HIV.

Sejarah Festival Kanamara Matsuri

Merujuk pada laman euronews, sejarah festival Kanamara Matsuri pada mulanya didasarkan pada legenda kuno seorang wanita muda yang pernah menjadi korban kutukan iblis yang cemburu.

Kemudian, sang iblis memilih untuk bersembunyi di dalam vaginanya dan menggigit penis suaminya ketika sedang berhubungan seks dengannya.

Kemudian wanita tersebut meminta bantuan dari seorang yang pandai besi agar dibuatkan lingga logam sebagai pengecoh iblis. Akhirnya iblis masuk perangkap mereka dan giginya hancur karena yang digigit adalah besi.

Sedangkan sejarah berkembang pada zaman Edo (1603 - 1868). Pada masa itu, Kawasaki merupakan daerah penginapan di sepanjang Tokaido, yaitu jalan utama yang menghubungkan ibu kota Timur Edo ke Kyoto.


Dahulu para wanita bekerja di penginapan sebagai pelayan dan pelacur mendatangi kuil dengan berdoa agar dilindungi dari penyakit dan kemalangan.


Fakta Festival Kanamara Matsuri

Berikut 10 fakta festival Kanamara Matsuri yang perlu diketahui:

1. Setiap musim semi, ribuan turis berkumpul ke Kawasaki, Jepang untuk turut merayakan festival "penis". Hal ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang karena saat festival mereka akan membuat ornamen-ornamen berbentuk penis.

2. Bahkan orang-orang yang menikmati festival ini tidak hanya datang dari penduduk Jepang, melainkan turis dengan berbagai latar belakang negara yang beraneka ragam. Faktanya lebih dari 30.000 partisipan menghadiri festival ini dengan persentase 60 persen merupakan warga Internasional.

3. Saat festival orang-orang akan menunggu adanya "parade Mikoshi" yaitu adanya penampilan tiga kuil besar yang berdiri tegak yang dibawa saat parade di jalanan dengan kendaraan hias.

4. Saat hari perayaan festival, para peserta dapat mengunjungi kuil dan ruang pameran di dalam area kuil atau membeli souvenir berbentuk penis dan manisan dari berbagai kedai makanan.

5. Di ruang pameran kuil, pengunjung dapat melihat koleksi gambar, benda, hingga buku yang berkaitan dengan tradisi seksualitas.

6. Puncak festival ini yaitu adanya parade yang dimulai pukul 12 siang dengan menampilkan tiga kuil portabel (mikosi) yang membawa benda-benda suci berbentuk lingga.

7. Saat parade terdapat prosesi "Elizabeth Mikoshi" yang membawa lingga merah muda besar di atas kuil portabel terbuka. Mikoshi ini nantinya akan disumbangkan oleh Elizabeth Kaikan.

8. Para turis yang ingin turut berpartisipasi sebaiknya datang lebih awal agar mendapatkan tempat. Hal ini karena kuil terletak di daerah pemukiman dan tempatnya juga sangat terbatas.

9. Perayaan festival ini untuk memberikan kemudahan pasangan yang ingin mendapatkan keturunan maupun yang berlindung dari bahaya penyakit seksual.

10. Semua ornamen yang terdapat pada festival baik bentuk kuil yang diparadekan hingga makanan sengaja dibuat mirip dengan bentuk penis.


Baca juga artikel terkait AKTUAL DAN TREN atau tulisan menarik lainnya Wulandari
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Wulandari
Penulis: Wulandari
Editor: Dipna Videlia Putsanra

DarkLight