'Siapa pun Presidennya, Hidup Kita Tak Lebih Baik'

Oleh: Widia Primastika - 18 Januari 2019
Dibaca Normal 3 menit
Alasan memilih golput, Jokowi, dan Prabowo, serta pandangan skeptis terhadap pemilu dan pilpres 2019.
tirto.id - Kamis, 17 Januari 2019, dua pasangan calon presiden dan wakil presiden unjuk kebolehan di panggung debat putaran pertama. Dua kubu pendukung tak mau melewatkan agenda itu. Mereka mengadakan acara nonton bareng untuk menambah keriuhan jelang pemilihan kepala negara.

Debat tak hanya dinantikan oleh simpatisan dua kubu. Di Twitter, misalnya, #DebatPilpres2019 menjadi tagar terpopuler dengan cuitan lebih dari 250 ribu.


Meski menyita perhatian publik, debat perdana capres tak memiliki arti bagi Doni. Saat mengantarkan saya ke Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, pengemudi ojek online ini mengatakan lebih memilih narik ketimbang nonton debat karena di Pilpres mendatang, dia tak berniat menggunakan hak suaranya.

“Sebenarnya sih saya pengin memilih Prabowo, tapi kok kayaknya menang Jokowi. Daripada ngotorin tangan saya [karena tinta pemilu], mendingan saya narik,” ujar Doni, 37 tahun.

Sejak pemilu 2014, Doni menaruh simpati pada Prabowo Subianto dengan alasan latar belakang Prabowo sebagai perwira tinggi militer. Doni mendambakan presiden seperti sosok Soeharto.

“Zaman Soeharto enak, apa-apa murah. Enggak kayak sekarang. Cuma Pak Harto dulu jeleknya banyak nepotisme. Nah, penginnya itu dipimpin militer, tapi enggak ada nepotisme. Cuma ya jangan kayak SBY juga, militer tapi enggak tegas,” kata Doni.

Meski suka dengan Prabowo, bukan berarti Doni membenci Jokowi. Menurut Doni, Jokowi adalah presiden yang baik. Hanya, Doni tak suka dengan PDI Perjuangan, partai yang menyokong Jokowi menjadi presiden, karena politikusnya suka sesumbar janji. Dono mendapatkan kesimpulan dari beragam berita di media online yang dia akses setiap hari.

Alasan Memilih Golput

Saya sengaja bertanya ke Doni, dan mendatangi orang-orang di Pasar Kebayoran Lama, untuk tahu apa pandangan mereka tentang Pilpres, Jokowi dan Prabowo. Pandangan mereka tetap penting meski mungkin saja tidak menggambarkan seluruh paradigma pemilih. Argumen-argumen mereka, dengan cara saya kali ini mengambil contoh sumber secara acak, tidak diniatkan buat dipakai sebagai acuan umum untuk Pilpres 2019.

Saya bertemu Nur, 45 tahun, pedagang Pasar Kebayoran Lama. Dia memilih golput karena tak bisa memilih di Jakarta. Dia adalah perantau dari Madiun, Jawa Timur. Sejak pemilihan presiden dilakukan secara terbuka pada 2004, Nur bercerita dia tak pernah menggunakan hak pilihnya.

Meski sekarang warga bisa mengurus formulir A5 agar bisa memilih dari kota lain, tapi Nur malas meluangkan waktu "hanya" untuk keperluan pemilu.

Lagi pula, kata Nur, siapa pun presidennya, tak berpengaruh terhadap hidupnya.

“Mendingan saya dagang. Kalau pas tanggal segitu di kampung ya ikut milih, kalau enggak ya enggak akan belain pulanglah,” ungkap Nur.

Jika bisa memilih, di Pilpres kali ini dia akan memilih pasangan Jokowi–Ma’ruf Amin. Namun, dasar pilihannya itu karena mengikuti pilihan sang suami, sebab Nur sendiri tak paham soal politik.


Setelah ngobrol dengan Nur, saya berbincang dengan Maman, 40 tahun, dan Kodir, 26 tahun, kuli panggul pasar. Saat itu mereka sedang menunggu siaran debat di TV sambil ngopi di bawah tangga pasar.

Mulanya saya berpikir Maman dan Kodir tertarik dengan politik. Ternyata, mereka menonton debat karena tak ada tayangan lain yang bisa mereka saksikan.

“Kalau ada acara lain sih bakal saya ganti,” kata Maman.

Sama seperti Nur, di Pilpres 2019 ini Maman dan Kodir enggan menggunakan hak pilihnya karena mereka tercatat sebagai penduduk Kuningan, Jawa Barat.

Sembari mengisap rokok, Maman dan Kodir secara bergantian mengatakan mereka enggan membuang uang hanya untuk ikut pemilu yang menurut mereka tak akan berdampak apa pun bagi hidup mereka.

“Politikus sama aja," kata Kodir. "kalau ada maunya aja baik. Kalau udah kepilih, ya lupa."

Kodir menceritakan kekecewaannya terhadap janji sekolah gratis. Bapak satu anak ini mengatakan setiap bulan dia tetap mengeluarkan uang untuk sekolah anaknya di desa.

Tak hanya uang sekolah, di sekolah anaknya mewajibkan peserta didik membeli buku pelajaran.

Curhatan dari Kodir itu diamini oleh Maman, kerana ia merasakan hal serupa. Belum lagi mereka harus memenuhi kebutuhan pokok.

“Mikir buat makan aja pusing, kok mau mikir politik?” celetuk Kodir.

Dalam percakapannya dengan saya, Maman dan Kodir menyampaikan tak hanya mereka yang memilih untuk golput karena di situ banyak pedagang yang ber-KTP luar Jakarta.

Pernyataan itu disampaikan oleh Kasrin, 52 tahun, pedagang cabai. Kepada saya, Kasrin mengklaim banyak teman pedagang yang tak menggunakan hak pilih setiap pemilu.

Pandangan terhadap Jokowi dan Prabowo

Meski banyak temannya yang apatis terhadap pemilu, Pilpres 2019 ini Kasrin mengatakan ia akan memilih Jokowi. Alasannya, “Kalau lihat di TV itu kinerja dia bagus, udah kelihatan gitu hasilnya."

Di sela kesibukannya berjualan, Kasrin kerap menonton berita politik di TV.

Jelang pemilu, Kasrin berkata tak pernah didatangi oleh tim sukses dari kedua kubu, baik di rumah maupun di pasar.

“Mungkin karena pasar ini [Pasar Kebayoran Lama] bukanya malam, jadi mungkin tim sukses males,” ujarnya.

Pilihan politik yang ia sampaikan itu hanya berasal dari informasi-informasi TV yang dia serap.

Usai beromong-omong dengan dengan Kasrin, saya mampir di warung nasi goreng milik Nurhadi, 49 tahun, sebelum saya pulang. Saat itu Nurhadi sedang menyaksikan debat.

Saya bertanya alasan dia merelakan waktu sela berjualan untuk menyaksikan debat. Meski sudah memiliki pilihan politik, Nurhadi ingin mengetahui kualitas dari para pasangan calon presiden dan wakilnya.

“Kalau saya sih pilih Jokowi, yang udah teruji,” ujar Nurhadi.

Nurhadi mengatakan telah memilih Jokowi sejak menjadi calon gubernur Jakarta. Nurhadi telah jatuh hati pada kinerja Jokowi sejak Jokowi menjadi Wali Kota Surakarta.


Nurhadi berkata kondisi ekonominya memang sama saja sebelum dan sesudah dipimpin oleh Jokowi. Namun, ia menilai banyak pembangunan di era pemerintahan Jokowi.

“Pembangunan sekarang jadi bagus-bagus karena Jokowi. Sejak dia jadi gubernur di sini saya puas,” katanya.

Meski Sandiaga Uno, calon wakil presiden dari Prabowo Subianto pernah menjabat wakil gubernur, menurut Nurhadi, dia adalah wakil gubernur yang gagal.

“Malah ngerusak. Lihat aja Tanah Abang, malah jadi enggak keruan,” alasan Nurhadi.

Saat Pilkada DKI Jakarta 2017, Nurhadi memilih Ahok. Meski berbeda keyakinan dengan dirinya, itu bukan masalah bagi dia sebab menurutnya semua agama mengajarkan kebaikan, dan yang terpenting bagi dia adalah pemimpin harus bisa bekerja.

Selain rasa sukanya kepada Jokowi, Nurhadi tak suka dengan gaya bicara Prabowo.

“Suka marah-marah enggak jelas, kayak orang stres,” katanya.

Selain itu, Nurhadi tak suka dengan orang-orang yang ada di belakang Prabowo, khususnya orang-orang dari PKS. Dia menilai politikus PKS itu "licik".

Jika Jokowi menang pada Pilpres 2019, menurut Nurhadi, bukan berarti dia tak bisa memimpin lagi pada 2024. Dia memprediksi, jika tak ada calon kuat yang bisa disodorkan oleh PDIP, partai berlambang banteng itu akan mengajukan Iriana sebagai calon presiden.

“Kan kalau Iriana jadi presiden, Jokowi masih bisa nyetir dia. Keputusannya pasti hasil pertimbangan bareng suaminya,” alasan Nurhadi.

Baca juga artikel terkait DEBAT CAPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Widia Primastika
(tirto.id - Politik)

Reporter: Widia Primastika
Penulis: Widia Primastika
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan